Posted by: mytalenta | August 11, 2008

Change or No Change!

Malam itu begitu dingin. Perubahan musim yang tidak menentu membutuhkan kekuatan fisik yang besar untuk survive. Sepeda motorku meluncur mendatangi rumah demi rumah. Teman SMP dulu. Girang hati bersua. Memori surat mungil, mengayuh sepeda, rumput hijau itu serasa menyatukan hati kami. Aku dan perempuan dulu berambut ikal agak bergelombang.  Sekarang, krudung putih itu menghias kepalanya. Cantik.
Perjalanan berlanjut ke rumah kedua. Si pemilik rumah pun membawa diriku ke masa silam. Saat terlambat bersama, gojekan bareng, pun belajar. Sekarang, dia punya kabar gembira, rencana pernikahannya. Aduh! Aku kecolongan start lagi. Apa-apa selalu keduluan dia, perempuan yang akhirnya menginspirasi menutup auratku.
Ada seorang laki-laki juga di sana. Jangkung dan berkacamata. Rekaman film kisah dulu menguak dalam lubuk pikiranku. Dia yang kadang manja, suka usil, tapi sebenarnya punya otak cukup briliant. Malam itu, dia tampak lebih gaya, menenteng tas, jari-jarinya pun tiada lepas dari sebuah benda. Handphone. Tapi, aku tahu dia sebenarnya sangatlah sederhana.
Satu jam berbincang, aku mulai merasakan kesenyapan. Ada keganjilan antara aku dan mereka bertiga. Spontan, ketika tatap mata, mereka layaknya seperti SMP dulu. Main cablek, main tendang, bicara gaul sekali, ngalor ngidul tak karuan, tak jelas ambang kemanfaatannya. Aku … tetap berusaha menjaga diriku. Ikut senyum meski terasa hambar. Ikut ngobrol meski kadang terasa kurang nyambung. Aku sungguh-sungguh blank dan kuper malam itu. Bukan gue banget pokoknya. Entahlah, mana yang salah dan mana yang benar saat itu.
Sepeda motorku kembali menancapkan gasnya. Kali ini menuju temanku yang terkenal sangat lucu di kelas. Sudah beranak dua. Satu dari suami pertama, yang kedua dari suami kedua. Hasil pernikahan di negeri seberang. Lagi-lagi, aku hening … bahkan sangat. Aku tertawa meski terpaksa. Kata-kata yang kurang pas sempat terdengar di telingaku, keinginan teman perempuanku itu untuk menikah ketiga kalinya meski suami kedua belum resmi cerai darinya. Alasan yang selalu klise, dunia. Obrolan di rumah yang agak remang itu menyisakan sedih yang cukup menggores, meski mereka berempat bergembira. Entahlah, mana yang salah dan mana yang benar saat itu. Aku mematung, berusaha mencari gelombang frekuensi yang benar-benar klik di telingaku.
Jam dinding menunjukkan pukul 20.30. Sepeda warna biruku pun kembali kusetir. Berbalik arah menuju rumah mewah komplit dengan perabotannya. Mobil ada juga di sana. Dua lagi. Maklum emang orang kaye, apalagi sekarang kerjaannya temanku yang satu ini mbanggring banget. So, its no doubt. Ada yang berubah, nampaknya laki-laki berkulit hitam ini gemuk. Cukup gaul, tapi mendingan, masih bisa menahan diri. Aku mulai cair meski sedikit ada sisa beku es di wajahku. Suer! Jahitan mulutku belum terbuka semua. Aku masih enggan ngobrol. Hingga pukul 21.30, kami berempat pamitan pulang.
Malam makin meninggi, larut, dan gelap. Sendirian, aku mencoba merangkai makna. Yach, hidup adalah perubahan. Yang dulu begitu lucu, polos, sekarang sudah dewasa bahkan sudah jadi orang tua. Awalnya santun, mungkin saja sekarang gaulnya nggak ketulungan. Dulunya anti rokok, sekarang malah jadi ahli hisab. Tapi jangan salah, awalnya norak sekarang alim, juga ada lho … Bahkan yang lari di tempat pun, ada. Macam-macam rupa manusia. Perubahan tidak hanya pemikiran dan perilaku, tapi juga perubahan fisik. Yang dulu gemuk jadi sebatang lidi dilindas kurang gizi misalnya. Atau mulanya kurus sekarang jadi obesitas, penyakit kegemukan. Yang pasti adalah perubahan adalah sebuah pilihan.
”Manusia yang rugi adalah yang hari ini sama dengan hari kemarin. Manusia yang beruntung adalah ketika hari ini lebih baik dari hari kemarin. Sedangkan manusia yang celaka adalah ketika hari ini lebih buruk dari hari kemarin”. Mau pilih yang mana? Bukankah Allah juga sudah memaparkan ”Dan telah Kami tunjukkan dua jalan padanya” – fujur wa taqwa.
Sekarang coba kita menengok ulang bagaimana Amirul Mukminin ”Umar bin Khoththob” mengalami perubahan itu. Awal pribadi yang beringas, perawakan yang terkesan bengis, main hunus pedang, biasa sekali Umar seperti itu. Tapi, semua berubah. Jika siang digantikan malam, maka Umar yang sadis berganti dengan Umar yang luar biasa. Semua karena hidayahNya, tak lepas juga bagaimana Umar membuktikan. Perlahan dia simak QS Thaha ayat 15 yang dibaca adiknya, artinya ”…. supaya tiap-tiap manusia menerima balasan atas apa yang mereka usahakan”. Maka luluh hati, itu yang terjadi. Seketika, Umar bergegas berlari menuju Rasulullah, berniat masuk Islam. Sejak saat itu Umar adalah pahlawan. Bagaimana dia menebus kesalahan, tiada yang mampu menandinginya. Di bawah kepemimpinannya, hampir seluruh wilayah di Jazirah Arab ditaklukkannya dan bertahan dalam jangka waktu lama. Luar biasa. Subhanallah!
Lagi-lagi itu adalah sebuah pilihan. Umar memilih untuk mendengarkan Al Quran dan itu membawanya kepada sebuah kejayaan. Tentu, kejayaan akhirat sebagai penghujung peristirahatan.
Atau, kisah menakjubkan seorang Mus’ab bin Umair. Perkenalannya dengan Islam tidak memaksanya meninggalkan gemerlap dunia yang digelutinya setiap hari. Ibunya pun tak mampu mematahkan hatinya untuk kembali ke agama asal. Teguh, semua hasil perubahan paradigma Mus’ab tentang ketauhidan. Tak khayal, Rasulullah pun mengangkatnya sebagai duta dakwah yang dikirim ke Madinah. Hasilnya, tak bisa dibayangkan. Setiap rumah di Madinah dipastikan ada yang memeluk Islam. Akhirnya, memang tragis secara kasat mata. Tapi sesungguhnya, itu hanyalah bungkus surga. Mus’ab syahid bersama kain burdah yang tak lengkap menutup tubuhnya, namun Allah membelinya dengan sebaik-baik harga. Semua kembali pada pilihan kita, mau melakukan perubahan atau sebaliknya.


Leave a response

Your response:

Categories