Posted by: mytalenta | April 21, 2009

Kapan Manusia Dewasa?

Usia. Apa makna bilangan yang disebut dengan usia? Apakah sekedar menyatakan anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia? Lalu, kapan manusia dikatakan dewasa?
Fakta sering menunjukkan bahwa usia ternyata tak sebanding dengan kematangan dan kedewasaan seseorang. Ada kalanya orang yang menyandang usia tua justru sikapnya masih kekanak-kanakan, atau sebaliknya. Pengalaman telah membuatku berpikir dan berkesimpulan bahwa usia tak hanya merupakan satu-satunya tolok ukuran kedewasaan.
Pertama, masih kuingat pertengahan April 2009. Yah, tanggal-tanggal belasan. Aku mengisi pelatihan dengan peserta yang sebelumnya belum pernah aku hadapi. Dosen. Pendidik mulia dengan tugas yang sungguh mulia juga, menciptakan guru-guru SD yang siap terjun dan handal nantinya. Dengan segudang senjata lengkap beserta peluru untuk menciptakan generasi guru yang luar biasa. Tak hanya meningkatkan kognitif siswa, tapi juga pembentukan sikap, karakter positif, dan kepribadiannya. Awalnya agak “keder” juga, tapi selanjutnya kutemukan sesuatu yang aneh, yang menurutku tak seharusnya ada. Entah itu disengaja atau sekedar gurauan saja. Tiga hari pelatihan, suasana sering membuatku mengelus dada, beristighfar setiap kali melihat atau mendengar kejadiannya. Perkataan yang tidak semestinya. Bicara tentang “mouse” (itu lho yang dipake ngeklik-ngeklik saat berhadapan dengan computer!) arahnya ke “payudara” (maaf agak vulgar). Bicara tentang besar kecil benda arahnya juga ke sana. Belum lagi tentang kecantikan wanita yang membuat laki-laki tak berdaya. Pembicaraan serasa kurang bermakna (meski trainernya dah ngos-ngosan mencegahnya) karena ujung-ujungnya menuju dua kata : “eksploitasi wanita” dan tetek bengeknya. Ampun deh! Maka, wajar sesi terakhir setiap harinya selalu ada renungan untuk mengingatkan mereka. Apa jadinya mahasiswa yang mereka ajar jika begitu yang disodorkannya. Dunia pendidikan seperti sebuah mainan saja.
Nah, betul kan? Bertambahnya usia kadang tak menambah makna kedewasaannya. Banyaknya data atau informasi terkadang justru membuat orang lupa akan kemanfaatannya. Menjadi tua itu bisa saja, tapi menjadi dewasa, lagi-lagi itu adalah pilihan manusia menanggapi usianya. Beserta segepok pengetahuan yang dimilikinya.
Kedua, seorang bocah kecil kelas 3 SD mengajariku pula. Saat itu ketika aku magang ngajar di sebuah sekolah. Ketika masuk kelas, bocah kecil itu terlambat beberapa menit untuk mengikuti pelajaran. Padahal dia adalah penegak kedisiplinan di kelasnya. Sebagai konsekuensinya, bocah itu pun tahu apa yang harus dilakukannya. Dilepaskannya rompi penanda status penegak kedisiplinan itu dan meminta maaf untuk tidak mengulanginya. Dia pun belajar dengan sikap yang baik, tanpa tingkah polah yang menjengkelkan gurunya.
Lihat! Si bocah kecil itu mengerti. Merangkai kejadian hingga akhirnya tahu bagaimana dia harus mengambil sikap. Dadanya cepat merasa sesak ketika kesalahan dilakukannya. Dia taat asas bahwa ada konsekuensi yang harus dia tanggung dan tak malu dia mengakuinya. Kecil, itu sesungguhnya hanya fisiknya saja. Selebihnya dia dewasa.
Maka, kapan manusia dewasa?


Leave a response

Your response:

Categories