Posted by: mytalenta | June 9, 2009

Who Next “Manusia Robbani”?

Tak dapat dielakkan bahwa manusia satu dengan manusia lainnya memang berbeda. Tak hanya dari “bleger” fisiknya saja. Dalam QS Al Lail ayat 4, Allah mengingatkan bahwasanya manusia itu berbeda dalam tingkatan amalnya. Usaha manusia beragam, baik atau buruk. Dalam surah yang lain yaitu QS Al Hujurat ayat 13, Allah juga berfirman tentang keadaan manusia yang bervariasi suku dan bangsa supaya mereka saling mengenal. Namun, tentu saja Allah mengajak mereka dalam satu tantangan yang sama,”Siapakah yang paling bertakwa?”
“Menciptakan generasi robbani”. Demikian saya pernah mendengar jawaban seorang guru agama yang mengajar di sebuah sekolah ketika ditanya tujuan beliau memberikan ilmu, bahkan tak jarang kalimat ini pun tercantum di papan visi misi sekolah. Suatu visi, cita-cita yang tinggi. Ya, generasi robbani, atau bisa saya katakan manusia robbani.
Maka, yang menjadi sorotan selanjutnya adalah,”Apakah manusia robbani itu?” Dari asal katanya saja mungkin pembaca semua sudah mampu menerka bahwa manusia robbani adalah manusia yang berorientasi ketuhanan. Mungkin. Lalu, bisa dijelaskan detail ketuhanan itu seperti apa? Berikut ulasan ciri-cirinya.
“Barang siapa yang diberikan kebaikan oleh Allah, maka akan dimudahkannya untuk mempelajari agama.”Demikian sabda Rasulullah. Mempelajari agama memang sudah sewajarnya dilakukan oleh setiap insan muslim di dunia. Semakin dia tekun bergaul dengan kitab suci, berinteraksi dengan sunah Nabi, maka sesungguhnya dia akan makin faqih tentang agamanya. Dan Allah senantiasa mengucurkan rahmatNya. Ciri inilah yang melekat pada manusia robbani. Detik waktu adalah ilmu, langkah kaki adalah belajar mendalami. Manusia robbani professional dalam masalah keagamaanya. Sekilas kita mengingat tentang Mu’adz bin Jabal. Mengutip dari www.id.wikipedia.org, Mu’adz bin Jabal adalah sahabat nabi yang berbai’at kepada Rasulullah sejak pertama kali. Sehingga ia termasuk orang yang pertama kali masuk Islam. Mu’adz terkenal sebagai cendekiawan dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqh, dan bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana yang halal dan yang haram. Luar biasa kan?
Sekarang saya akan bertanya,”Apa perbedaan orang yang faqih dan orang yang alim?” Sekilas terkesan sama, tapi ternyata beda. Faqih saja tidak cukup, maka manusia yang robbani haruslah alim. Alim bermakna memiliki ilmu. Apa saja. Ulama terkenal Yusuf Qardhawi menyarankan kepada para juru dakwah untuk bisa menguasai minimal 5 bidang ilmu selain ilmu agama. Ilmu-ilmu itu adalah:
a. Sosiologi
Apa saja yang terjadi dalam masyarakat, seluk beluk budaya masyarakat, seorang juru dakwah wajib mengetahuinya. Bagaimana mungkin dia akan menyebarkan nilai kebaikan sedang dia tak tahu budaya masyarakatnya.
b. Psikologi
Kepribadian setiap orang adalah unik, yang itu berbeda satu dengan yang lainnya. Cara menghadapinya pun butuh perlakuan yang beda. Maka seorang juru dakwah sangatlah perlu mempelajari ilmu ini agar penanganan kepada setiap orang bisa lebih tepat.
c. Sejarah
Sejarah adalah mata rantai. Jika seorang juru dakwah tak mengenal sejarah apa yang mau disampaikannya, maka manusia yang akan dihadapinya pun akan berkurang kepercayaannya. Sejarah mampu member bukti, sejarah mampu membuat orang terperangah. “Oooo…,”begitu kira-kira kata yang kita harapkan keluar dari mulut orang ketika juru dakwah menampilkan sejarah.
d. Komunikasi
Tahu segalanya namun tak bisa mengkomunikasikannya sama artinya dengan mutiara yang berkilau tapi terpendam di dasar permukaan laut. Maka, manusia robbani perlu mendalami komunikasi. Cara berinteraksi, cara memberi pengaruh, dan cara menyuguhkan kesan positif baik secara verbal maupun non verbalnya.
e. Dunia kontemporer
Dunia memang berkembang pesat seiring dengan ilmu pengetahuan yang laju perkembangannya pun demikian dahsyat. Masalah-masalah pun bermunculan, sedangkan pada zaman Rasulullah dulu belum pernah kejadian. Seorang manusia robbani yang sekaligus berkecimpung di dunia dakwah harus pula menambah wawasan keilmuannya dengan dunia kontemporer ini.
Nah, ilmu sudah ada dan mungkin saja hafal di luar kepala. Selanjutnya, ada aksi menunggu manusia robbani untuk mengamalkannya. Mereka harus melek politik juga. Pertarungan hak dan batil akan selalu ada, tak akan musnah hingga kiamat menjemput alam semesta. Maka politik dalam arti luas mengurusi masalah umat juga merupakan prioritas utama. Manusia robbani harus berani mengambil sikap untuk terjun dan melek politik sekarang juga. Bekal ilmu yang mereka miliki juga harus mampu menjadikan mereka melek untuk mengorganisir kegiatan-kegiatannya hingga yang hak mampu mengalahkan yang batil.
Namun, kereta api tak hanya berhenti di satu stasiun saja. Gerbong panjang ini akan terus berjalan menuju stasiun berikutnya. Manusia robbani demikian juga. Setelah faqih dalam agama, alim dalam bidang keilmuan lainnya, melek politik, dan mampu mengorganisasikan aktivitasnya, maka satu tugas mulia telah menanti mereka, menggenapkan status manusia robbani yang disandangnya. “Mengatur masalah umat dengan memberikan maslahat dunia dan agama bagi mereka.” Ini dia. Sangatlah rugi ketika manusia sudah mumpuni keilmuannya, namun hanya mampu mencela keadaan buruk lingkungan sekitarnya tanpa bersikap solutif dan membawa maslahat bagi mereka. Ingat! Rasulullah adalah nabi rahmatan lil alamin, maka sudah sewajarnya manusia robbani bisa berupaya agar bisa memberikan manfaat, kenyamanan bagi dunia dan agama umat disekitarnya.
Maka, who next “manusia robbani”? Anda? Saya? Saya kira surga masih sangat cukup disediakan untuk kita semua. Mari kita berlomba.


Leave a response

Your response:

Categories