met idul fitri
Posted in Uncategorized
Change or No Change!
Malam itu begitu dingin. Perubahan musim yang tidak menentu membutuhkan kekuatan fisik yang besar untuk survive. Sepeda motorku meluncur mendatangi rumah demi rumah. Teman SMP dulu. Girang hati bersua. Memori surat mungil, mengayuh sepeda, rumput hijau itu serasa menyatukan hati kami. Aku dan perempuan dulu berambut ikal agak bergelombang. Sekarang, krudung putih itu menghias kepalanya. Cantik.
Perjalanan berlanjut ke rumah kedua. Si pemilik rumah pun membawa diriku ke masa silam. Saat terlambat bersama, gojekan bareng, pun belajar. Sekarang, dia punya kabar gembira, rencana pernikahannya. Aduh! Aku kecolongan start lagi. Apa-apa selalu keduluan dia, perempuan yang akhirnya menginspirasi menutup auratku.
Ada seorang laki-laki juga di sana. Jangkung dan berkacamata. Rekaman film kisah dulu menguak dalam lubuk pikiranku. Dia yang kadang manja, suka usil, tapi sebenarnya punya otak cukup briliant. Malam itu, dia tampak lebih gaya, menenteng tas, jari-jarinya pun tiada lepas dari sebuah benda. Handphone. Tapi, aku tahu dia sebenarnya sangatlah sederhana.
Satu jam berbincang, aku mulai merasakan kesenyapan. Ada keganjilan antara aku dan mereka bertiga. Spontan, ketika tatap mata, mereka layaknya seperti SMP dulu. Main cablek, main tendang, bicara gaul sekali, ngalor ngidul tak karuan, tak jelas ambang kemanfaatannya. Aku … tetap berusaha menjaga diriku. Ikut senyum meski terasa hambar. Ikut ngobrol meski kadang terasa kurang nyambung. Aku sungguh-sungguh blank dan kuper malam itu. Bukan gue banget pokoknya. Entahlah, mana yang salah dan mana yang benar saat itu.
Sepeda motorku kembali menancapkan gasnya. Kali ini menuju temanku yang terkenal sangat lucu di kelas. Sudah beranak dua. Satu dari suami pertama, yang kedua dari suami kedua. Hasil pernikahan di negeri seberang. Lagi-lagi, aku hening … bahkan sangat. Aku tertawa meski terpaksa. Kata-kata yang kurang pas sempat terdengar di telingaku, keinginan teman perempuanku itu untuk menikah ketiga kalinya meski suami kedua belum resmi cerai darinya. Alasan yang selalu klise, dunia. Obrolan di rumah yang agak remang itu menyisakan sedih yang cukup menggores, meski mereka berempat bergembira. Entahlah, mana yang salah dan mana yang benar saat itu. Aku mematung, berusaha mencari gelombang frekuensi yang benar-benar klik di telingaku.
Jam dinding menunjukkan pukul 20.30. Sepeda warna biruku pun kembali kusetir. Berbalik arah menuju rumah mewah komplit dengan perabotannya. Mobil ada juga di sana. Dua lagi. Maklum emang orang kaye, apalagi sekarang kerjaannya temanku yang satu ini mbanggring banget. So, its no doubt. Ada yang berubah, nampaknya laki-laki berkulit hitam ini gemuk. Cukup gaul, tapi mendingan, masih bisa menahan diri. Aku mulai cair meski sedikit ada sisa beku es di wajahku. Suer! Jahitan mulutku belum terbuka semua. Aku masih enggan ngobrol. Hingga pukul 21.30, kami berempat pamitan pulang.
Malam makin meninggi, larut, dan gelap. Sendirian, aku mencoba merangkai makna. Yach, hidup adalah perubahan. Yang dulu begitu lucu, polos, sekarang sudah dewasa bahkan sudah jadi orang tua. Awalnya santun, mungkin saja sekarang gaulnya nggak ketulungan. Dulunya anti rokok, sekarang malah jadi ahli hisab. Tapi jangan salah, awalnya norak sekarang alim, juga ada lho … Bahkan yang lari di tempat pun, ada. Macam-macam rupa manusia. Perubahan tidak hanya pemikiran dan perilaku, tapi juga perubahan fisik. Yang dulu gemuk jadi sebatang lidi dilindas kurang gizi misalnya. Atau mulanya kurus sekarang jadi obesitas, penyakit kegemukan. Yang pasti adalah perubahan adalah sebuah pilihan.
”Manusia yang rugi adalah yang hari ini sama dengan hari kemarin. Manusia yang beruntung adalah ketika hari ini lebih baik dari hari kemarin. Sedangkan manusia yang celaka adalah ketika hari ini lebih buruk dari hari kemarin”. Mau pilih yang mana? Bukankah Allah juga sudah memaparkan ”Dan telah Kami tunjukkan dua jalan padanya” – fujur wa taqwa.
Sekarang coba kita menengok ulang bagaimana Amirul Mukminin ”Umar bin Khoththob” mengalami perubahan itu. Awal pribadi yang beringas, perawakan yang terkesan bengis, main hunus pedang, biasa sekali Umar seperti itu. Tapi, semua berubah. Jika siang digantikan malam, maka Umar yang sadis berganti dengan Umar yang luar biasa. Semua karena hidayahNya, tak lepas juga bagaimana Umar membuktikan. Perlahan dia simak QS Thaha ayat 15 yang dibaca adiknya, artinya ”…. supaya tiap-tiap manusia menerima balasan atas apa yang mereka usahakan”. Maka luluh hati, itu yang terjadi. Seketika, Umar bergegas berlari menuju Rasulullah, berniat masuk Islam. Sejak saat itu Umar adalah pahlawan. Bagaimana dia menebus kesalahan, tiada yang mampu menandinginya. Di bawah kepemimpinannya, hampir seluruh wilayah di Jazirah Arab ditaklukkannya dan bertahan dalam jangka waktu lama. Luar biasa. Subhanallah!
Lagi-lagi itu adalah sebuah pilihan. Umar memilih untuk mendengarkan Al Quran dan itu membawanya kepada sebuah kejayaan. Tentu, kejayaan akhirat sebagai penghujung peristirahatan.
Atau, kisah menakjubkan seorang Mus’ab bin Umair. Perkenalannya dengan Islam tidak memaksanya meninggalkan gemerlap dunia yang digelutinya setiap hari. Ibunya pun tak mampu mematahkan hatinya untuk kembali ke agama asal. Teguh, semua hasil perubahan paradigma Mus’ab tentang ketauhidan. Tak khayal, Rasulullah pun mengangkatnya sebagai duta dakwah yang dikirim ke Madinah. Hasilnya, tak bisa dibayangkan. Setiap rumah di Madinah dipastikan ada yang memeluk Islam. Akhirnya, memang tragis secara kasat mata. Tapi sesungguhnya, itu hanyalah bungkus surga. Mus’ab syahid bersama kain burdah yang tak lengkap menutup tubuhnya, namun Allah membelinya dengan sebaik-baik harga. Semua kembali pada pilihan kita, mau melakukan perubahan atau sebaliknya.
Posted in Uncategorized | Tags: motivasi
tumbuh dan berkembang
Kembang Doa
“Ini Dik, sertifikat tanahnya,” seorang perempuan 39 tahun menyerahkan map abu-abu plastik anti air kepada seorang laki-laki 12 tahun lebih muda.
“Makasih ya Mbak. Saya akan berusaha mengembalikannya,” jawab laki-laki itu.
Perempuan itu mengangguk mantap. Celupan kebaikan hatinya tersirat jelas di segurat wajahnya berpoles bedak kelas ringan. Sederhana, sepadan dengan profesinya. Guru swasta di kota Kediri, tempat beliau mulai merasakan sapuan angin kehidupan. Sepeda reot dan sepeda motor Honda tahun 80-an, pernah menjadi teman setia pengantar aktivitas mengajarnya. Semangat yang berapi-api melakoni cerita bersambung hidup ini, menyulut langkahnya terus menaikkan derajat diri. Dari rumah berhimpit-himpit menjadi rumah longgar meski tak memancarkan harga mahal. Meski 80% saat itu berdindingkan batu bata tak berpakaian semen, apalagi cat.
Siang itu, meluncurlah si perempuan itu ke kota di sebelah selatan Kediri. Tulungagung namanya, terkenal dengan kerajinan batu kapur, bentangan laut Popoh, dan pabrik rokok Retjo Pentoeng. Menyambangi saudara ragilnya yang tercekik lilitan masalah. Hutang 30 juta. Nominal besar, menguap sia-sia demi menurutkan kesenangan sementara. Dua tahun, jangka waktu pelunasan.
”Lho, mana sertifikat tanahnya?” tanya suami Narmi. Joko, demikian warga sekitar memanggilnya.
”Kan dibawa Hendar sebagai jaminan! Seminggu yang lalu katanya dah ijin Mas?” jawab Narmi.
”Nggak tuh, dipake jaminan apa?” Joko meminta penjelasan. Laki-laki kurus karyawan pabrik terbesar di Kediri itu merasa dipermainkan, tidak diorangkan. Narmi kecolongan alias terkena penipuan besar. Sontak, riuh saat itu. Joko tak terima. Tanah diatasnya berdiri rumah seperempat jadi itu akan hilang begitu saja? Sungguh, tak berkorelasi signifikan dengan beratnya mencari jutaan uang untuk membelinya dua tahun silam. Nasi sudah menjadi bubur.
Barisan hari tak indah lagi. Narmi tak kunjung jera memoles rumahnya yang masih jauh dari sempurna, tapi Joko tidak demikian halnya. Meredam dan akhirnya mati cahaya harapannya memiliki rumah impiannya. Tak elak, pertengkaran, adu lidah tak bertulang pun sering mewarnai liku-liku rumah tangga mereka.
”Ya sudah! Kamu yang nyerahkan, kamu yang bertanggung jawab! Aku nggak mau ikut-ikutan bangun rumah ini sampai sertifikat itu kembali. Emang gampang nyaur utang 30 juta?” Joko terlihat bersungut.
”Lha gimana Mas? Aku juga tak tahu,” Narmi mendesah merasa bersalah.
***
Tahun pertama masa pelunasan hampir berakhir. Desember 1998 mulai merapat melabuh di pantai akhir tahun itu. Istri Hendar yang semenjak kejadian merantau ke luar negeri, berhasil menyisakan hutang menjadi 15 juta. Hendar terkatung-katung tak tahu mau bekerja apa. Kembali ke orang tua, di Kediri yang masih saja tinggi tingkat penganggurannya. Hendar tak mampu beranjak. Jaring-jaring anak semata wayangnya pun mengikat kakinya. Tanpa uang. Mengandalkan kiriman istrinya. Itu pun tak berlangsung lama. Udara segar yang sempat dihirup Narmi, keyakinan hutang itu akan terbayarkan pada masanya, kini semakin kotor dan sesak saja. Istri Hendar tanpa kabar.
“Gimana Mbak? Hamzah hidup dari mana?” keluh Hendar.
”Jadi tukang-tukang sana lho! Sekarang kalau nggak nukang, mau makan pake apa?” nada Narmi terdengar berat.
”Aku kan nggak bisa nukang?” Hendar mengungkap kelemahan dirinya.
”Lha mau gimana? Nggak papa. Besok ikut Yas sana, barangkali butuh tukang.”
Hendar memulai profesi barunya. Tukang bangunan. Berjerang di bawah sinar panas matahari setiap harinya. Rata-rata sepuluh ribu per hari upahnya. Melunasi hutang tak sempat terlintas lagi di benak otaknya yang hanya lulusan SMA swasta. Anaknya tetaplah raja. Lagi-lagi Narmi membantu pelunasan itu. Diam-diam. Tanpa berisik. Joko tak mungkin menjadi benteng penolong tatkala itu. Tambal sulam hutang dijalani Narmi. Berkali-kali, tapi sepi. Lobang tempaan hidup kian dalam, mengais rizki di sela-sela lorongnya yang masih panjang, entah kapan berakhirnya.
”Bu, kenapa nangis?” suara anak pertama Narmi memecah lamunannya. Gadis remaja kelas tiga SMA Negeri seberang kali. Kali Brantas yang membelah Kediri menjadi dua bagian, timur kali dan barat kali. Nama yang aneh, begitulah warga kota tahu ini menamainya. SMA Negeri tempat Rini sekolah berada di wilayah barat kali. Sebentar lagi, Rini menuai hasil belajarnya tiga tahun di sekolah itu. Melanjutkan ke jenjang kuliah adalah kebanggaan tersendiri.
”Nggak apa-apa kok Nduk. Gimana sekolahmu?” tanya Narmi menyembunyikan kesedihan sambil mengusap air mata yang tak sadar telah meleleh di pipi.
”Baik Bu, doain lulus NEM nya bagus ya Bu, terus kuliah di Perguruan Tinggi,” jawab Rini polos.
”Nduk, kalau misalkan tahun ini nggak kuliah dulu gimana?” tanya Narmi.
Rini terdiam kaku. Tertegun, segelintir cairan dalam mulutnya membasahi tenggorokanya. Alasan ibunya menangis menerawang akan terngiang beberapa hitungan detik lagi. Sekejab terlintas satu singkatan ”Madesu” alias Masa Depan Suram. Paradigma memang belum berubah. Kuliah pintu kesuksesan, tidak kuliah pintu kehancuran. Pemikiran dangkal lagi sempit. Sama, saat Rini mendengar pertanyaan itu. Rumah berstatus jaminan tempatnya menumpang merebahkan badan, pun dirasakannya tak nyaman. Atap yang belum terpasang, menembuskan pandangan Rini ke luar melongok menggapai sinar. Tikus-tikus di kayu-kayu panjang penopang genting berdecit-decit, berlarian tak paham. Rayap-rayap bergelanyutan di tembok kian memanjang. Narmi membuka rahasia itu. Terpaksa, mungkin bisa memecahkan satu jerawat dalam hidupnya.
”Bu, apa benar nggak bisa diusahakan?” tanya Rini memastikan.
Narmi tak bergeming. Sejujurnya, dia tak tega. Bagaimanapun juga, status keibuan dan profesi keguruannya selalu berpihak pada hati nuraninya,”Anakku harus sekolah tinggi, harus lebih baik daripada aku.” Ruang tengah sepi lagi. Televisi 21 inci di sebelah kursi pun enggan untuk aktualisasi diri. Suguhan musik, berita, film kartun, olahraga, sementara waktu istirahat sekaligus menghemat tagihan listrik bulan Maret tahun 2000. Hening. Sssssstttttt.
”Kalau kuliah di STAN, mau nggak Nduk?” suara Narmi mengalun sendu.
”STAN?” Rini melirikkan bola matanya ke atas pertanda sedang berpikir.
”Bagaimana? Di STAN kan nggak bayar, ikatan dinas lagi!”
”Rini coba ya Bu. Nggak apa-apa sich!” jawab Rini.
Juni 2000. Rini menamatkan masa SMA nya, bersiap-siap untuk UMPTN Juli mendatang. Meski tendangan kesulitan biaya menghantam dadanya nan tak lapang, tak memadamkan api optimis di dalamnya. Rini diterima di salah satu Perguruan Tinggi ternama. Ujian STAN di Yogyakarta diikutinya pula. Namun, keberuntungan tak berpihak padanya. STAN gagal. Time is up, keputusan kembali ke hakim agung yakni ibunya.
”Yo wis Nduk, daftar ulang sana, ntar keburu tutup,” Narmi membiarkan Rini masuk Perguruan Tinggi. Tendangan itu meleset kali ini. Hore! Rini bungah, cerah, sumringah. Narmi hanya mengulum senyum. Bahagia yang memang harus dia paksa. Demi masa depan anaknya.
***
Semilir, udara luar merembes masuk melalui pori-pori jendela. Di pojok rumah yang dingin tempat Narmi menyelonjorkan urat kaki, meregangkan gulungan-gulungan otot yang terjerat. Enam bulan pasca Rini meneriakkan kemenangan, Narmi cenderung membungkam dan terbenam. Terhanyut malam dengan mata melek. Berkolaborasi indah dengan lidahnya terus merangkai. Gerakan takzim beraturan menyokong penyembuhan rasa perih di lautan kalbunya. Setiap hari, mushaf berukuran sepanjang penggaris, setebal kamus lengkap Bahasa Inggris, dilantunkannya dengan nada teriris. Makhroj-makhroj huruf mulai melayang kebenarannya. Pun hukum-hukum waqafnya. Berhenti di sekehendak hati, bukan tanda tak megerti, namun sayatan aroma suci kitab itu membuat Narmi memenggal isakan dan berhenti. Isakan lagi dan berhenti. Berhenti di sekehendak hati.
”Ya Allah, tolonglah hambaMu ini. Jangan jadikan rumah tangga ini hancur Ya Allah gara-gara sertifikat itu tak kembali. Duh Gusti, hambaMu ini lemah. Bantu hamba Ya Allah agar bisa menyahur hutang ini, menyekolahkan anak hamba, memperbaiki hubungan dengan suami hamba. Hamba tahu semua tak akan berada di luar batas kemampuan hamba. Beri hamba kekuatan karena Engkaulah Yang Maha Kuat, beri hamba kesabaran karena Engkaulah Yang Maha Sabar,” pinta Narmi di kesenyapan malam setiap hari. Meski Joko ngorok. Pun anak keduanya berbalut mimpi.
Kabar rumah lampau menguap di atap langit, bercampur debu kepahitan yang enggan terbang menyisakan perih. Pasalnya, rumah lampau dijual untuk menambal sulaman yang masih sobek sebesar 15 juta. Belum laku karena kontur bangunan yang tak bersahabat, tak memikat. Lengket dengan tembok rumah di samping kanannya. Dengan satu pintu tertutup sebagai penghubungnya. Jika dibuka, tembus pandang ke ruang tamu rumah sebelahnya. Seolah satu rumah, tapi itu dua rumah dengan pemilik yang berbeda.
”Bu, gimana kabar selanjutnya? Rumah dah terjual?” tanya Rini waktu pulang kampung. Jatah libur kuliah Sabtu dan Minggu diambilnya, menengok Narmi.
”Belum,” Narmi menggelengkan kepalanya.
”Satu bulan lagi orang Cina tinggi putih itu pasti ke sini, menagih pelunasan hutang,” Rini mengingatkan.
”Iya, doakan aja ya Gusti Allah memberi kemudahan. Rumah terjual,” mata Narmi tergenang air yang batal ditumpahkannya. Rini mengangguk mengiyakan.
”Kuliahmu Nduk?” Narmi membelokkan perbincangan di kursi berbentuk L setengah siang itu.
”Alhamdulillah!”
Rini nelongso. Dibenamkannya fakta uang kiriman empat ratus ribu per bulan tak cukup untuk biaya hidup dan kuliahnya. Nasi sebungkus untuk dua kali makan, strategi Rini untuk terus menyambung detak jantungnya. Puasa Daud tak lagi susah dijalaninya karena terbiasa. Wajah ibunya, sekilas disaksikannya. Anugrah terindah yang dia punya. Terlihat kokoh, butir kesabaran menghias aura tubuhnya.
”Kuliah yang bener ya Nduk! Supaya ibu senang,” harap Narmi di tengah kekalutan pikirannya.
”Ya Bu, sekarang aku juga sudah ngaji. Berteman ma teman-teman yang baik, mendorongku sering berdoa. Yakin Bu, Allah pasti memberi jalan,” jelas Rini.
Januari 2001 menyapa memberikan salam terindahnya. Happy new year! Manusia bersorak gembira, mempersiapkan pernik-pernik rencana 12 bulan ke depannya. Agar hidup lebih hidup. Namun, rumah di pojok kampung itu masih suram. Gelisah merekah menunggu hunusan pedang si sipit pemilik piutang. Lima belas juta belum tersusutkan. Doa-doa kian melambung menyapa Tuhan. Sederhana, bahkan tak berbahasa arab, berbeda jika seorang Pak Kyai mendendangkan.
”Bisa saya ambil uangnya sekarang Bu? Sertifikat tanah kemarin juga saya bawa hari ini,” laki-laki bersedan itu sambil mengeluarkan map abu-abu dari tas kopernya.
”Beri waktu saya 2 bulan lagi Pak! Saya mohon! Hendar hanya jadi tukang, itupun habis untuk makan, saya sendiri gajinya pas-pasan,” Narmi melembek.
”Tapi kan waktunya dah habis. Dua tahun.”
”Saya mohon Pak! Rumah saya dulu belum terjual. Dua bulan aja Pak! InsyaAllah saya bisa melunasinya,” rengekan itu terdengar lagi.
”Nggak bisa dong Bu, 2 tahun mestinya dah cukup. Saya jauh-jauh dari Tulungagung untuk menagih hutang Ibu. Kok malah minta diundur lagi. Saya juga rugi Bu gara-gara ulah Hendar!”
”Tapi beneran Pak, sekarang saya belum punya uang.”
”Baiklah, dua bulan aja ya. Lima belas juta,” luluh laki-laki itu, akhirnya.
Helaan nafas, lepas terhempas. Batin Narmi memanjat syukur. Tak disangka bakat bermain drama untuk peran orang miskin muncul sendirinya. Ah, ada-ada saja. Kini, rumah lampau menjadi fokusnya. Trik apa lagi yang manjur untuk memikat pembelinya. Omongan dari mulut ke mulut sudah. Ke rekan kerja juga. Entahlah! Buntu, belum terbias sinar temu. Telapak tangan kembali tengadah, menunggu kucuran rahmat yang masih misteri kapan dijatuhkannya. Tenggelam di gigir-gigir malam. Mesra, berbincang-bincang penuh perasaan. Haru, kelelawar malam melihat iri. Pun burung masih di sangkar, seraya larut menengok Narmi hanyut dalam kesenangan bertemu Tuhan.
”Mbak, aku punya usul, setuju nggak kira-kira?” Kirman, adik ketiga Narmi menawarkan. Perawakannya yang besar dengan tinggi sedang seiringan dengan besar perhatiannya kepada Narmi tentang bab yang tak kelar-kelar.
”Kamu mau menolong Mbak? Apa? Aku wis bingung Dhik,” Narmi menjawab.
“Kemarin ada orang ngincar rumahku yang di Desa Ngampel, mau dibeli. Empat puluh juta. Pikirku, jika sudah dibeli, uangnya aku pake buat beli rumahnya Mbak yang lama. Biar masalahnya cepat selesai,“ laki-laki beranak dua itu menjelaskan.
“Alhamdulillah! Tapi apa istrimu setuju?” tanya Narmi.
”Nggak masalah Mbak. Lagian kan dekat ibu, bisa ngemong Irfan kalau istri dan aku lagi kerja kalau pagi,” ujar Kirman meyakinkan.
”Duh Dhek, suwun yo!” Narmi girang tak ketulungan.
Berjalanlah transaksi itu. Kirman membeli rumah Narmi tak hanya 15 juta, ada 5 juta tambahannya. Harga yang pas menurut hitungan tak jlimet ala orang desa. Apalagi, kerabat sendiri. Ukhuwah itu masih merekah, efek positifnya menjelma kala manusia membutuhkannya. Allah memang luar biasa. Tiada jemu Narmi mengeluarkan segenap untaian terima kasih padaNya. Kekuatan besar tempat bersandarnya, menumpahkan rangkaian kalimat suci di sepertiga malam di hamparan sajadah tempat sujudnya. Mangga di halaman rumah pojok perempatan itu pun mengibaskan daun mengalirkan kesejukan. Joko yang dulu ogah, kini mulai mendekati Narmi, menanyakan kabarnya. Merancang rencana untuk apa sisa uang 5 juta akan digunakan. Joko, Joko! Narmi rupanya tak marah pada suaminya. Toh, semua memang kesalahannya.
”Gimana Bu Narmi, adakah 15 juta itu?” orang Cina itu kembali menagih.
”Ini Pak. Terima kasih atas kesempatan 2 bulan yang telah diberikan,” sahut Narmi sambil menyerahkan uang beramplop coklat.
”Kok bisa dapat 15 juta! Apa rahasianya?”
”Kemurahan Bapak memberikan kelonggaran waktulah yang memudahkan semuanya,” jawab Narmi gembira.
”Saya?” orang Cina itu penasaran sambil terus menghitung uang ratusan ribu yang digepit sepuluh-sepuluh sebelumnya.
”Iya!” senyuman Narmi mengembang kedua kalinya.
”Pas Bu, 15 juta. Terima kasih atas pujiannya. Ini uang saya kembalikan 5 juta. Sepuluh juta sudah cukup buat saya. Tak usah ditolak, anggap aja hadiah atas pujian itu,” tutur si sipit berkemeja rapi itu.
Malam yang menyenangkan. Ucapan Alhamdulillah mengalir deras dari mulut Narmi. Kaget, tak percaya, orang Cina yang tak mengenal bau sajadah ini begitu baiknya. Di ruang tengah, lampu menyala terang, seterang hati Bu Guru SD swasta itu. Rini di balik ruang tamu, ikut merasakan getaran suka yang membuncah dari raut wajah ibunya. Lagi-lagi anugrah yang tak bisa diungkapkan. Ketabahan ibunya menyalurkan energi keinginan bahwa dia bisa seperti ibunya. Melahirkannya 19 tahun yang lalu, tanpa dukun beranak, lahir dengan sendirinya.
”Benar kan Bu, Allah pasti memberi jalan.”
”Benar, tidak salah lagi.”
Posted in Uncategorized | Tags: cerpen
Tua-tua Cabe Rawit
Judul di atas kiranya aneh kita dengar. Tapi itulah yang bisa saya ambil hikmahnya dari seorang ibu tua 75 tahun. Noer Laila nama beliau. Ternyata, tua tidak selalu identik dengan lupa, tidak selalu berbanding lurus pula dengan ketidakberdayaan. Ingin bukti? Ya, ibu Noer Laila jawabannya.
Ketika itu Pebruari 2005. Saya berkunjung dan menginap ke rumah beliau, ibu dari teman saya Eeng. Sangat santun beliau menyambut kehadiran saya. Hidangan teh hangat manis dan beberapa kue kecil tak lupa dihidangkannya hingga kami larut dalam sebuah perbincangan.
”Mbak, temannya Eeng ya? Dulu jurusan Matematika juga? Dari ITS?” tanya beliau.
”Iya Bu, tapi saya dari Unair,” jawab saya singkat.
”E … ibu juga dari Matematika lho! Aljabar, aritmatika, geometri, ilmu ukur, ibu masih bisa lho sampai sekarang!” beliau berujar. ”Aljabar kayak ada variabelnya, aritmatika itu hitung-hitungan, geometri ya bangun-bangun ditambah sudut. Kalo ilmu ukur biasanya satuannya yang dipelajari,” beliau melanjutkan perkataannya.
Saya hanya membatin, ”Luar biasa!” Malam berlanjut, subuh pun menyambung. Saya tengok ke dapur, si Ibu tidak ada, tapi makanan begitu lengkap tersedia. Standar lah, 4 sehat 5 sempurna meskipun minumannya bukan susu sapi murni, tapi susu kedelai. Kucari-cari si Ibu, rupanya beliau sedang ke masjid, sholat subuh berjamaah, kebiasaan rutinnya. Lagi-lagi, saya membatin, ”Luar biasa!”
Beliau datang. Lalu, meminta saya untuk segera sarapan. Sambil menyelam minum air, sambil sarapan suasana mencair.
”Nih susu kedelai buatan ibu sendiri. Buatnya gampang, ditambah jahe sedikit,” beliau memulai.
”Oh ya, enak Bu, rasanya beda, apalagi hangat begini! Tadi dari masjid ya Bu?” saya bertanya.
”Ya iya … sholat malam dulu, lalu ke masjid. Dari masjid, jalan-jalan sebentar sekitar rumah, biar sehat,” tutur Bu Noer Laila.
”Kalau siang, ngapain aja Bu?”
”Kadang ikut kajian Nak, ya kayak tafsir Al Quran dan ilmu fiqh. Ibu juga ikut arisan di kampung ini,” jawab beliau ringan.
Sekali lagi saya membatin, ”Luar biasa!” Itu masih sedikit. Ibu Noer Laila juga suka lihat televisi khususnya berita. Berita terbaru, insyaAllah ada dalam memori beliau. Orangnya murah senyum, jalannya pun masih tegak. Kata beliau, ya berkat susu kedelainya, kan kaya kalsium.
Sungguh, itulah yang membuat saya kerasan silaturahim ke beliau. Banyak hal yang saya peroleh. Teori keseimbangan alias tawazun benar-benar beliau terapkan. Akal beliau senantiasa diasah dengan berita. Bahkan Matematika tempo dulu pun tak dilupakannya. Jasmani beliau pun dilatih dengan olahraga pagi plus menu makan yang sehat. Belum lagi, sisi ruh beliau. Sholat berjamaah, kajian …. Komplit sudah. Alhasil, saya dibuatnya terkagum.
Satu motivasi buat saya,”Jika yang tua saja bisa, apalagi yang muda!” Tua-tua cabe rawit bukan sebuah anekdot, tapi itu benar adanya. Subhanallah.
Posted in Uncategorized | Tags: inspirasi
